Tampilkan postingan dengan label merpati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merpati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

JENIS MERPATI HIAS

1. Homer:
Berasal dari burung liar yang dikenal dengan nama Columbian livia. Setelah dijinakkan burung tersebut dikenal sebagaiRacing Homer – dapat kita sebut sebagai “merpati pos” aduan. Dari jenis Racing Homer ini kemudian muncul beberapa jenis merpati, antara lain:
Homer pameran (Exhibition Homer) yang dikembangkan sejak 1990 sebagai burung pameran.
German Beauty Homer yang dikembangkan di Jerman sejak 1907 sebagai burung pameran. Burung ini mirip dengan Racing Homer tetapi lebih ramping.
Giant Homer yang dikembangkan di Amerika Serikat untuk mendapatkan burung yang berbadan besar dan memiliki kemampuan memproduksi anak yang banyak. Burung ini ditujukan untuk keperluan konsumsi.
Racing Homer dikembangkan dewasa ini di Belgia dan Inggris. Sejak lama barung ini digunakan sebagai pengirim berita dan kini dikembangkan dengan penyilangan terhadap
burung-burung yang kecepatannya tinggi karena sasaran utamanya adalah kecepatan. Dengan demikian, warna, bentuk dan besarnya menjadi nomer dua.
2. Tumbler
Oleh orang Belanda burung ini dikenal sebagai Tuimelaar. Burung ini punya keistimewaan terbang dari ketinggian tertentu akan turun ke ketinggian tertentu dengan melakukan serangkaian salto atau jungkir balik di udara. Semula burung ini merupakan burung olahraga tetapi kemudian menjadi burung untuk pameran.
Merpati-merpati jenis tumbler:English shortfaced tumble: merupakan burung yang kecil, padat, dengan leher jenjang mungil tetapi dengan dada yang kokoh. Dalam keadaan berdiri biasa, ujung sayapnya akan menggantung lebih rendah dari kedudukan ekor – ini merupakan ciri yang menonjol. Selain itu bagian muka dari kepalanya menonjol agak jauh ke depan daripada paruhnya yang pendek. Dengan dipelihara untuk keperluan pameran, maka kemampuannya untuk terbang tinggi dan jungkir balik pun hilang. Burung diternakkan dengan berbagai variasi warna.
Birmingham Roller: dikembangkan di Birmingham (Inggris) sebagai burung yang memiliki keistimewaan terbang. Kemampuannya untuk jungkir balik dan berputar-putar di udara menjadi sasaran utama pemeliharanya. Burung ini mampu untuk jungkir balik (trumble), termasuk salto ke belakang dan berputar-putar (spin) dengan kecepatan tinggi sekali. Dan itu dilakukan mulai ketinggian yang cukup tinggi (burung mampu terbang tinggi) dan berakhir setealh berada pada ketinggian yang rendah. Kemampuan ini telahg menjadi acara pertandingan yang menarik bagi para penggemarnya. Tetapi Birmingham Roller juga menjadi burung yang dipamerkan bahkan cara-cara penilaiannya pun telah dibakukan.
Flying Tipller: merupakan burung yang diekambangkan dari Flying Tumbler. Burung ini dipelihara karena kemampuannya terbang yang lama. Jenis yang baik akan mampu terbang terus-menerus selama 20 jam.
Parlour Tumbler: juga disebut Ground Tumbler atau House Tumbler. Burung ini diternakkan karena kemampuannya lombat ke udara, melakukan salto sekali atau dua kali ke belakang, dan kedua kakinya hinggap kembali ke tempat semula.
3. Cumulet:
Burung ini merupakan jenis tumbler dari Perancis yang mampu terbang tinggi dan juga merupakan salah satu nenek moyang dari jenis Racing Homer. Burung ini berbadan sedang tetapi serasi, dengan dada bidang, sayapanya panjang dan kokoh, kaki agak pendek. Umumnya warna bulu putih, dan ada yang memiliki bintik-bintik merah di kepala atau leher.





4. Flight:
Burung ini dikembangkan di Amerika dan merupakan ras tersendiri. Dari kelompok ini ditemukan burung yang dikenal dengan nama Domestic Flight. Burung ini mampu terbang tinggi, dengan ukuran badan sedang, paruh tampak memannjang dan kepala ramping berjambul, tetapi ada pula yang tidak. Matanya putih dengan lingkaran tengah dari mata (selaput mata) bagus. Dan inilah letak rahasia kemampuannya melihat jauh saat merpati terbang tinggi.
Selain itu ada juga burung yang diberi nama Show Flight. Burung ini mempunyai badan yang lebih gemuk dan kepala lebih besar daripada jenis Domestic Flight. Burung ini diternakkan karena kemampuannya terbang tinggi dan memiliki keindahan yang dapat dijadikan sarana untuk dipamerkan. Kedua macam burung ini diternakkan dengan warna hitam, kuning, merah dan abu-abu cokelat.

Jenis Umum Merpati

Demikian sejumlah jenis merpati yang popular saat ini. Namun jika kita menengok lebih jauh, maka merpati sebenarnya bisa dibedakan berdasar ukuran badan, bentuk badan, dan warna bulu.
Berdasar ukuran badan

1. Carrier
Sering disebut English Carrier, berasal dari Bazora Persia. Awalnya adalah burung pembawa berita, tetapi kemudian kalah tenanr dibandingkan Racing Homer. English Carrier punya ciri bulu keras dan rapat ke badan, pial paruh berwarna putih, bisa membesar sebesar biji kemiri, dan baru berhenti setelah usia 3 tahun. Kelopak mata dikelilingi pial dalam bentuk lingkaran yang besar. Tinggi 45-48 cm, berat 500-650 gram. Warna hitam, merah, kuning, putih, dan ada yang berpita biru.







2. Carneau
Burung konsumsi dari Belgia Selatan atau Perancis Utara, berat 750 gram dan bisa mencapi 1 kg.








3. Strasser
Dikembankan di Austria sebagai burung konsumsi tetapi kalah popular disbanding Carneau. Strasser hamper menyerupai merpati Gazzi Modena. Kepala, leher, sayap dan ekor dapat memiliki berbagai warna dengan badan berwarna putih.










4. Mondaine
Keturunan merpati Perancis dan Italia sebagai burung konsumsi. Berpenampilan menarik tetapi untuk burung konsumsi kalah populer disbanding burung lain.










Berdasar bentuk badan:

1.Kipas (Fantail)
Berasal dari India dan Cina. Tanda mencolok ekornya menyerupai kipas. Tetapi karena ekor panjang, kita harus sering memotongnya agar bisa kawin. Kelemahan burung ini, harus dicarikan indukan lain untuk mengasuh anak.








2. Jacobin
Diberi nama seperti itu karena bulu-bulu yang mengitari kepalanya menggambarkan topi yang dipakai pendeta-pendeta Jacobin. Burung diternakkan dengan warna putih, jitam, biru, perak, merah dan kuning.












3. Frillback
Burung yang istimewa tetapi kurang popular. Merpati ini berbulu ikal di bandan dan sayap, sehingga ditemukan adanya bulatan-bulatan kecil bagaikan bulu. Ada yang jambul ada yang tidak. Burung yang baik harus punya ikal yang kokoh. Warna ada yang hitam, putih, kebiruan, kemerahan, kekuningan. Yang kemerahan dan kekuningan dianggap sebagai bentuk yang baik.





4. Cropper
Bersanak dekat dengan pouter. Keduanya menjadi keluarga besar, dengan cirri-ciri hampir sama. Salah satu cropper yang terkenal adalah English Cropper. Tembolok besar, berdirinya tegak, badan dan pnggang langsing dengan kaki panjang. Termasuk merpati yang tinggi karena bisa setinggi 50 cm dari kepala sampai kaki. Pada tembolok merpati ini ada gambar bulan sabit dengan kedua ujung bertemu di dekat kedua matanya. Ujung sayap, bagaina bawah badan, kaki dan bulu-bulu putih di sayap menggambarkan bintik-bintik seperti bulu.
Jenis lain dari Cropper adalah Pouter yang mudah dijinakkan dan menyenangkan. Jenis lainnya adalah Holle Cropper yang berbentuk seperti merpati kipas, tetapi tidak berekor kipas. Jenis lain Cropper adalah Valencia Cropper yang bertembolok menggantung, mengembang seakan dibusungkan.
Berdasar warna bulu
1. Modena
Diambil dari nama kota tempat dia berasal. Terkenal sebagai merpati ternak yang baik. Yang terkenal dari jenis ini adalah Gazzi Modena dengan badan putih serta kepala, sayap dan ekor berwarna-warni. Termasuk merpati kecil dengan ukuran panjang 25 cm, tetapi padat gemuk (buntek) dan bergaya anggun.








2. Florentine
Berasal dari Florence, Italia. Berbentuk seperti ayam betina. Terkenal di Eropa sebagai burung pameran, tetapi bisa masuk sebagai burung konsumsi karena bisa mencapai berat 500-800 gram). Kepala, sayap dan ekor berwarna-warni dengan badan putih.






3. Lahore
Di Pakistan dan sekitarnya dikenal dengan nama Shiraz (kota tempat burung berasal). Leher, perut, dada dan ekor berwarna putih. Kepala, pinggang dan sayap bisa berwarna lain. Kaki bisa berbulu semua tetapi ada yang polos. Bisa dimasukkan sebagai merpati konsumsi karena badannya besar. Diternakkan dengan bulu beraneka warna.








4. Oriental Frill
Sangat menawan hati, berasal dari Turki, dengan jenis banyak sekali tetapi yang paling populer adalah Satinette yang mempunyai badan berwarna putih dengan garis-garis pada bahu, sayap, dan ekor warna hitam, biru dan abu-abu cokelat. Bagian sayap untuk terbang berwarna putih. merpati ini punya bulu balik di daerah dada. Karena pandai membesarkan anak, jenis ini sering digunakan untuk “orang tua asuh”.
Ada pula merpati dengan sebutan terkenal Owl yang dikenal di Indonesia dengan nama Meeuw. Kekhususannya adalah berparuh pendek, pial dan kepala membentuk bulatan. Ada berbagai jenis dari merpati ini. Berbeda dengan Oriental Frill, kepala Owl biasa saja tanpa jambul. merpati ini tidak pandai membesarkan anak.
@berbagai sumber

Minggu, 08 September 2013

Ayam Cemani



Ayam cemani merupakan ayam yang tubuhnya disominasi oleh warna hitam pada kuku, kulit, bulu, paruh, mata, daging, tulang, dan lidah, bahkan kadang ada juga yang berdarah hitam. Ayam ini oleh kalangan tertentu diyakini memiliki kekuatan magis sehingga banyak dicari

Ayam Cemani ayam lokal asli berasal dari propinsi Jawa Tengah. Kata cemani diambil dari bahasa Jawa yang artinya hitam legam. Warna hitam legam ini menyelimuti tubuh ayam lokal ini mulai dari jengger, pial, paruh, bola mata, lidah, rongga mulut, bulu, lubang dubur, kaki dan cakar. Konon ayam Cemani sempurna memiliki persentase warna hitam 100 % sampai warna darah, daging dan tulang, tapi sampai sekarang ini belum terlaporkan adanya cemani dengan warna hitam 100 %. Selama warna hitam yang menyelimuti tubuh luar, lidah dan rongga mulut, maka ayam ini dikatakan ayam Cemani murni.


Asal muasal ayam Cemani adalah ayam Kedu hitam, yang banyak dipelihara oleh masyarakat di desa Kedu, desa Beji dan desa Kahuripan Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, propinsi Jawa Tengah. Di ketiga desa ini ayam Kedu sudah dipelihara sejak awal abad 20 (baca artikel “Mengenal Lebih Jauh Ayam Cemani” oleh Muryanto pada Majalah Poultry Indonesia No. 132/TH XII-Januari 1991, halaman 16-20). Ayam Kedu yang diklaim mempunyai berbagai nama sesuai warna yaitu Kedu hitam (lebih dari 90,6 %), ayam kedu Putih (3,4 %) ayam Kedu Coklat (0,2 %), ayam Kedu Kelabu (0,1 %) dan ayam Kedu Lurik (5,7 %). Ayam Cemani ini tentunya berasal dari ayam Kedu Hitam yang diseleksi kearah pemurnian warna hitam dan bentuk jengger tunggal bergerigi. Entah berapa generasi seleksi tersebut sudah dilakukan yang sementara ini populasinya semakin bertambah dibandingkan populasi ayam Cemani pada 10 tahun yang lalu. Ayam Cemani banyak terlihat disepanjang jalan protokol kabupaten Temanggung dijaja oleh masyarakat setempat dengan harga bervariasi mulai puluhan ribu sampai beberapa juta rupiah.

Menurut bapak Muryanto (penulis “Mengenal Lebih Jauh Ayam Cemani”), ayam Cemani dapat diperbanyak dengan mengawinkan sesama ayam Cemani, yang akan menghasilkan anak-anak berwarna hitam legam dan berwarna tidak hitam legam. Anak-anak ayam yang berwarna hitam legam kemudian dinamakan ayam Cemani sedangkan anak-anak ayam yang berwarna lain biasanya dinamakan ayam Kedu hitam, untuk yang hitam, putih untuk yang putih dan atau ayam Kedu warna lain untuk setiap warna yang muncul. Sementara ini masyarakat memang memperlakukan ayam Cemaninya lebih baik dari ayam Kedu, karena diharapkan dapat dijual dengan harga tinggi.

Keberadaan ayam Cemani ditinjau dari aspek sumberdaya plasma nutfah, merupakan suatu keuntungan dengan bertambahnya satu lagi ayam lokal khas, meskipun tentu saja penekanan terhadap populasi ayam Kedu di lokasi yang sama, terjadi. Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari ayam Cemani ini adalah kelihatannya sebagi ayam hias untuk kesenangan seperti halnya ayam Pelung, ayam Bekisar atau ayam Kapas. Yang jelas ayam Cemani yang dipelihara untuk tujuan produksi daging, tidak akan berhasil karena banyak konsumen tidak menyukai daging berwarna hitam.

Informasi asal mula dan karakter kualitatif ayam Cemani sampai sejauh ini kiranya seperti di tersebutkan di atas. Lalu bagaimana caranya untuk memelihara dan/atau memperbanyak ayam Cemani. Dari sumber informasi yaitu pemelihara ayam Cemani di lokasi asal sumber, ternyata tidak diperoleh suatu keterangan yang khusus untuk memelihara warna hitam tersebut. Memang secara ilmiah warna tampilan ayam tidak mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungan seperti pakan atau suhu. Sifat warna lebih banyak dipengaruhi gen yang diturunkan dari tetuanya. Oleh karena itu dalam upaya memelihara ayam Cemani, tatacara pemeliharaan ayam Kedu sebagai jenis ayam yang paling dekat kekerabatannya dapat diaplikasikan pada ayam Cemani.

Sehubungan dengan banyak sekali kesamaan dari ukuran tubuh ayam Cemani dengan ayam Kedu Hitam dan belum adanya informasi khusus mengenai karakteristik kuantitatif ayam Cemani, maka sementara ini kita asumsikan bahwa karakter kuantitatif ayam Cemani sama seperti karakter kuantitatif ayam Kedu Hitam.

Ayam jantan dewasa pada waktu berdiri normal mencapai tinggi sekitar 60 cm dengan lingkar dada mencapai 34 cm dan panjang sayap 25 cm. Sementara itu ayam betina dewasa mencapai tinggi 50 cm dengan lingkar dada 27 cm dan panjang sayap 21 cm. Bobot anak ayam umur sehari berkisar antara 28 ? 32 gram/ekor, kemudian bobot ayam betina umur 5 bulan berkisar antara 1200 ? 1300 gram/ekor. Semantara ayam jantan umur 5 bulan berkisar antara 1400 ? 1500 gram/ekor. Umur pertama bertelur berkisar antara 4,6 ? 6,5 bulan dan produksi telur pada pemeliharaan diumbar dan semi intensif berkisar 56 ? 77 butir per ekor/tahun, sementara yang dipelihara intensif dalam kandang batere dapat mencapai 215 butir/ekor/tahun. Bobot telur ayam berkisar antara 41 ? 49 gram/butir. Konsumsi pakan ayam dewasa per hari mencapai 93 gram per ekor.

Sebagaimana dikemukakan pada beberapa laporan penelitian, ayam Kedu dikenal sebagai ayam lokal yang memproduksi telur lebih tinggi dari ayam kampung biasa. Ayam Cemani bagaimanapun juga kecil kemungkinan dipelihara dengan cara diumbar dihalaman, tetapi besar kemungkinan dipelihara secara semi intensif bahkan intensif penuh, mengingat nilai ekonomis dan sifatnya sebagai ayam hias. Jumlah ayam Cemani yang mungkin dipelihara oleh setiap anggota masyarakat yang gemar akan ayam Cemani ini biasanya tidak lebih dari sepuluh ekor, namun kemungkinan bisa saja ayam ini dipelihara dalam populasi yang besar dalam suatu peternakan yang besar suatu hari untuk mencari keuntungan. Dalam tatacara pemeliharaan ayam Cemani ini bisa diadopsi tatacara pemeliharaan ayam Kedu Hitam.

Untuk memperbanyak, ayam Cemani dikawinkan dengan sesama ayam Cemani secara alami dengan perbandingan maksimal 1 jantan 5 betina untuk, yang kemudian ditetaskan sendiri oleh induknya, karena ayam ini masih memiliki sifat mengeram dan mengasuh anaknya. Anak-anak ayam yang menetas kemudian dipisahkan antara yang berwarna hitam legam murni, anak ayam Cemani dari yang berwarna selain hitam, sebagai anak ayam Kedu. Pemeliharaan anak-anak ayam dapat segera dilakukan begitu menetas dipisahkan dari induknya, atau dari mesin apabila ditetaskan dengan mesin tetas untuk dipelihara dalam kandang yang dilengkapi dengan pemanas. Sebagaimana biasanya tentunya setelah anak-anak ayam berumur 4 hari, segera dilakukan imunisasi dengan vaksin tetelo atau ND (Newcastle desease), yang dapat diperoleh dari toko-toko pakan dan obat ayam. Imunisasi kemudian diulang pada umur 4 minggu dan 4 bulan. Selain vaksin ND, dapat juga diimunisasi dengan vaksin cacar fowl pox, apabila perlu. Proses seleksi dilakukan terus menerus untuk memisahkan anak-anak ayam yang berbulu bukan hitam. Pemeliharaan anak-anak ayam secara intensif dapat dipelajari dari berbagai buku petunjuk pemeliharaan ayam ras atau ayam kampung yang dapat diperoleh dari toko-toko buku terdekat.

Ayam dapat dipelihara dalam kandang berlantai kawat atau bambu atau langsung diatas lantai tanah atau semen yang dialasi sekam atau serbuk gergaji secukupnya. Ukuran kandang bervariasi disesuaikan dengan besar ayam. Untuk ayam dewasa setiap luasan lantai 1 m persegi, maksimum dapat diisi oleh 4-6 ekor. Ruangan dalam kandang ayam harus terhindar dari pemanasan matahari langsung dan basah kena air hujan. Ventilasi dibuat secukupnya disekitar dinding kandang. Kebersihan kandang harus selalu dipelihara untuk menghindarkan ayam dari penyakit. Larutan desinfektant dapat dipakai untuk menyeprot setiap pojok kandang setelah dibersihkan dari sampah dan debu. Penerangan dapat diberikan secukupnya terutama untuk anak-anak ayam untuk memudahkan pengontrolan pada waktu malam hari.

Jenis pakan yang dapat diberikan untuk lebih mudahnya dapat memakai pakan jadi komersial untuk ayam ras tipe petelur mulai dari pakan untuk anak ayam, ayam muda dan ayam dewasa. Namun untuk menekan harga, pakan dapat dibuat dengan campuran berbagai bahan pakan seperti dedak padi, jagung giling, menir, gabah dan sebagainya, yang disesuaikan dengan ketersediaan bahan dan murah harganya. Namun untuk mencampur pakan, diperlukan pengetahuan yang cukup mulai dari mengetahui kebutuhan berbagai tingkatan umur ayam, pengetahuan nilai gizi bahan-bahan pakan dan teknik penyusunan pakan untuk mendapatkan pakan yang mengandung berbagai zat gizi yang diperlukan ayam pada berbagai tingkatan umur. Namun untuk praktisnya di bawah ini disajikan salah satu contoh formula ransum sederhana dengan bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh untuk anak ayam, ayam muda dan ayam dewasa.. Adapun kandungan gizi sedikit ditingkatkan untuk mengatasi kemungkinan penurunan kualitas bahan-bahan pakan yang kadang tejadi dari waktu ke waktu.


sumber : tmtnews.wordpress.com

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes